Teori Belajar Konstruktivisme
Essay Kecil Model Pembelajaran Inovatif Part 2
Teori
Belajar Konstruktivisme
Teori belajar sendiri didefinisikan sebagai
metode yang menggambarkan bagaimana seseorang melakukan proses belajar. Adapun
pengertian dari belajar menurut Ernest R. Hilgard adalah kegiatan atau proses yang dilakukan
secara sengaja dan menimbulkan perubahan atas keadaan sebelumnya. Umumnya
setelah belajar seseorang cenderung melakukan perubahan diri ke arah yang lebih
baik. Salah satu teori pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme.
Teori ini
juga dikenal dengan sebutan teori Piaget, karena tokoh terkenal yang
mencetuskannya bernama Piaget. Konstruktivisme mempunyai sifat membangun, yang
berarti merupakan suatu usaha untuk menata atau menyusun sesuatu. Dalam konteks
pendidikan, teori belajar Konstruktivisme bermakna sebagai sebuah proses
pembelajaran yang bersifat membentuk. Menurut Sudarsana I (2018), belajar
menurut teori konstruktivisme artinya pembelajaran tidak hanya mentransfer
pengetahuan dengan menghafal, tetapi mengkonstruksi pengetahuan melalui
pengalaman belajar siswa. Teori ini memberikan kebebasan kepada peserta
didik belajar dengan kemampuannya sendiri dalam menemukan kebutuhan yang dicari
atau diingikan dengan bantuan pendidik yaitu guru. Dengan demikian guru
berperan sebagai perancang dan pemberi fasilitas dalam proses pembelajaran. Hal
itu berarti teori belajar konstruktivisme berperan membangkitkan keaktifan
peserta didik untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan yang
diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Prinsip-prinsip belajar
dalam teori Konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1.
Belajar harus selalu merupakan sebuah proses yang
aktif.
2.
Peserta didik belajar dengan menyelesaikan
bermacam-macam konflik kognitif melalui pengalaman, refleksi, dan metakognisi.
3.
Belajar merupakan proses pencarian sebuah makna. Guru
juga berperan dalam pengkonstruksian tersebut dengan menciptakan kegiatan
belajar yang menarik minat siswa.
4.
Konstruksi pengetahuan tidak bersifat individualisme.
5.
Melalui proses konstruksi secara sosial, melalui
interaksi dengan teman sebaya, guru, orang tua dan sebagainya.
6.
Guru dituntut memiliki pengetahuan yang baik tentang
perkembangan anak dan teori belajar, sehingga pendidik dapat menilai secara
lebih akurat mengenai gambaran pembelajaran yang akan terjadi.
7.
Belajar berarti mengkonstruksikan pengetahuan secara
menyeluruh, dengan mengeksplorasi dan menengok kembali materi yang telah
dipelajari.
8.
Mengajar adalah sebagai pemberdayaan pembelajar, dan
memungkinkan pembelajar untuk menemukan dan melakukan refleksi terhadap
pengalaman yang realistis.
Adapun
kelebihan dari teori konrtruktivisme diantaranya yaitu:
1. Guru
bukan satu-satunya seumber belajar.
2. Siswa
(pembelajaran) lebih aktif dan kreatif.
3. Pembelajaran
menjadi lebih bermakna.
4. Pembelajaran
memiliki kebebasan dalam belajar.
5. Perbedaan
individul bisa terukur dan dihargai.
6. Guru
berfikir proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan
masalah dan membuat keputusan.
Adapun kekurangan
didalam teori ini daintaranya yaitu:
1.
Peran guru sebagai pengajar kurang terwujud karena
siswa lebih dituntut untuk belajar secara mandiri.
2.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melaksanakan
pembelajaran, karena siswa diharuskan menemukan konsep dengan pengalaman
belajarnya sendiri.
Daftar
Rujukan
Lapono,
N, dkk. Belajar Dan Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi
Depdiknas, 2008.
Saguni,
F. (2019). Penerapan Teori Konstruktivis dalam Pembelajaran. Paedagogia.
Sugrah,
N. U. (2020). Implementasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran
sains. Humanika, 19(2), 121–138.
https://doi.org/10.21831/hum.v19i2.29274
Supardan,
D. (2016). Teori dan Praktik Pendekatan Konstruktivisme dalam
Pembelajaran. Edunomic, 4(1), 1–12.
Sudarsana,
I. K. (2018).
Optimalisasi Penggunaan Teknologi Dalam Implementasi Kurikulum Di Sekolah
(Persepektif Teori Konstruktivisme). Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan 1 (1),
8-15
Komentar
Posting Komentar