Hakikat Fisika dan Pembelajarannya

Nama   : Qurrota A’yun

NIM    : 180321614581

Essay Kecil MPI Part 1

HAKIKAT FISIKA DAN PEMBELAJARANNYA

Pembelajaran adalah proses interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan sumber belajar, dan siswa dengan siswa lainnya. Fisika adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang gejala dan fenomena alam. Tak jarang ilmuwan menyebutkan bahwa Fisika merupakan ilmu dasar setelah Matematika. Hal itu karena Fisika menjadi sumber hukum bagi Kimia dan Biologi. Tidak hanya itu, Fisika juga erat dengan Matematika. Perumusan teori di dalam Fisika harus mematuhi aturan yang telah ada di Matematika. Hal yang membuat Fisika terlihat sulit adalah persamaan matematis yang digunakan tergolong rumit dan kompleks. Fisika merupakan cabang IPA, sehingga hakikat Fisika dapat disamakan dengan hakikat IPA. Adapun Hakikat Pembelajaran Fisika menurut para ilmuwan adalah sebagai berikut: 

1.    A body knowledge (Produk)

Fisika berisikan fakta-fakta, konsep, hukum dan prinsip, rumus, teori, dan model. Fakta merupakan kenyataan atau kesungguhan dari suatu peristiwa, sedangkan konsep merupakan abstraksi dari berbagai kejadian. Hukum dan prinsip menjelaskan keberadaan tentang fakta. Sedangkan rumus merupakan pernyataan matematis suatu fakta, hukum, maupun teori. teori menjelaskan tentang hal tidak dapat diamati, sedangkan model merupakan representasi sesuatu yang tidak dapat dilihat. Sehingga adanya model dapat membantu memahami fenomena alam.


2.    A way of thinking (Sikap)

Cara atau jalan berpikir yang selanjutnya disebut sebagai sikap. Sikap-sikap yang terdapat pada fisika merupakan sikap ilmiah. Dalam kegiatannya, sikap ilmiah yang perlu dikembangkan pada saat kegiatan pengamatan, pengukuran dan percobaan. Melalui pemikiran, seseorang mampu bersikap dan bertindak, sehingga bisa melakukan kegiatan ilmiah. Dalam melakukan kegiatan ilmiah, seseorang harus memiliki sikap objektif, rasa percaya diri, jujur, dan terbuka. Inilah makna Fisika sebagai sikap.


3.    A way of investigating (Proses)

Cara untuk menyelidiki segala sesuatu yang selanjutnya disebut Fisika sebagai proses. Gambaran umum Fisika sebagai proses adalah bagaimana cara ilmuwan bekerja dalam kegiatan ilmiah atau bagaimana cara mereka melakukan penelitian sampai menemukan suatu fakta. Jika ditinjau dari pembelajaran fisika, maka pembelajaran fisika sebagai proses diharapkan mampu mengembangkan keterampilan sains pada diri siswa.

Pembelajaran Fisika pada hakikatnya merupakan cara ideal untuk memperoleh kompetensi yang berupa ketrampilan, memelihara sikap, dan mengembangkan pemahaman konsep yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari. Fisika harus dipandang sebagai proses, sikap dan produk, maka dalam pembelajaran fisika tidak boleh dikatakan produk lebih penting dari pada proses atau sebaliknya. Karakteristik Pembelajaran Fisika adalah sebagai berikut (Yulita, 2019):

  1. Melibatkan hampir semua indera manusia. Pada prosesnya membutuhkan daya berpikir, dan berbagai gerakan. Salah satunya pada saat melakukan praktikum di laboratorium.
  2. Membutuhkan berbagai macam metode, model, maupun strategi pembelajaran. Hal ini disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
  3. Membutuhkan bermacam alat guna membantu proses pengamatan. Biasanya alat-alat fisika terdapat pada laboratorium sekolah yang dapat digunakan pada saat praktikum.
  4. Melibatkan temu ilmiah seperti seminar, studi kepustakaan, penyusunan hipotesis, dan sebagainya.
  5. Pembelajaran fisika merupakan proses yang aktif.

 

Referensi

Prasetyo, D. Z. K. (no date) ‘Hakikat Kurikulum dan Pembelajaran Fisika’, p. 49.

Subekti, Y. and Ariswan, A. (2016) ‘Pembelajaran fisika dengan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan proses sains’, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 2(2), p. 252. doi: 10.21831/jipi.v2i2.6278.

Warimun, E. S. (2012) ‘Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Fisika Pada Pembelajaran Topik Optika Pada Mahasiswa Pendidikan Fisika’, (2), p. 4.

Yulita, A.R. 2019. Desain Pembelajaran Fisika: Karakteristik Pendidikan Fisika. Universitas Negeri Jakarta.

Komentar